Mahasiswa KKN Tebing Linggahara Mempelajari dan Melihat Langsung Pembuatan Kain Tradisional Ulos dan Songket Batak Khas Mandailing

Tebing Linggahara – Dalam rangka mengenal sekaligus mendukung pelestarian budaya dan potensi kerajinan lokal masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan pengenalan dan dokumentasi kerajinan Ulos Paroppa Sadun khas Tapanuli Selatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Jalan Lintas Tanjung Harapan, Dusun Sipirok, Desa Tebing Linggahara, Kecamatan Bilah Barat, dengan mengunjungi salah satu pengrajin lokal, Ibu Nurlela Ritonga.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menjaga keberadaan kerajinan tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sumatera Utara. Ulos tidak hanya memiliki nilai sebagai produk kerajinan, tetapi juga mengandung nilai sejarah, sosial, dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa KKN berkesempatan untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan Ulos Paroppa Sadun secara langsung. Mahasiswa melakukan perkenalan dan wawancara dengan pengrajin, menggali informasi mengenai proses pembuatan, waktu pengerjaan, ukuran, harga, serta berbagai informasi terkait keberadaan Ulos Sadun sebagai salah satu kerajinan khas Tapanuli Selatan.

Dalam prosesnya, mahasiswa juga melihat secara langsung aktivitas pengrajin dalam membuat Ulos Paroppa Sadun serta mendokumentasikan proses dan hasil kerajinan tersebut. Dokumentasi dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi kerajinan lokal sekaligus menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa mengenai kearifan lokal yang masih dipertahankan oleh masyarakat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pengrajin, satu buah Ulos Paroppa Sadun memiliki panjang sekitar 2 meter dan membutuhkan waktu pengerjaan kurang lebih dua minggu, tergantung proses dan tingkat kerumitan pembuatannya. Untuk harga jual, Ulos Sadun tanpa nama dibanderol sekitar Rp750.000, sedangkan ulos yang dilengkapi dengan nama memiliki harga sekitar Rp850.000.

Keberadaan pengrajin seperti Ibu Nurlela Ritonga menjadi salah satu bentuk nyata bahwa keterampilan tradisional masih terus dijaga dan dikembangkan oleh masyarakat. Kerajinan Ulos Paroppa Sadun tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN memperoleh pengalaman dan pengetahuan secara langsung mengenai proses pembuatan kerajinan tradisional serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Di sisi lain, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam memperkenalkan dan mendokumentasikan potensi lokal yang terdapat di Desa Tebing Linggahara.

Mahasiswa KKN berharap kegiatan pengenalan dan dokumentasi ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal serta mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk turut mengenal, menghargai, dan menjaga keberadaan kerajinan tradisional seperti Ulos Paroppa Sadun agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.