Dari Labuhanbatu ke Mentawai: Muhammad Syahfii Mahasiswa Ekonomi ULB Pimpin Program Mentor Muda Mengajar di Desa Madobag

Desa Madobag, Kepulauan Mentawai — Di tengah hamparan alam Kepulauan Mentawai yang masih menyimpan berbagai keterbatasan akses pendidikan, sekelompok anak muda hadir membawa semangat perubahan. Melalui program Mentor Muda Mengajar, gerakan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, pada 16–24 Januari 2026.

Program Mentor Muda Mengajar merupakan kegiatan pengabdian yang berfokus pada penguatan literasi dasar, literasi digital, literasi kecerdasan artifisial (AI), serta peningkatan kapasitas guru, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah tertinggal. Desa Madobag dipilih sebagai lokasi kegiatan karena masih menghadapi tantangan dalam pemerataan akses pendidikan, penguatan budaya literasi, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kegiatan ini dikoordinatori oleh Muhammad Syahfii, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Labuhanbatu, yang dipercaya sebagai Koordinator Divisi Mentor Muda Mengajar, bersama 11 relawan muda lainnya. Program ini dipimpin oleh Eriza Gusmanda, S.H selaku Project Leader, serta digagas oleh Cut Reska Zulviani, S.H selaku Founder Mentor Muda Mengajar.

Literasi sebagai Jembatan Masa Depan

Selama sembilan hari pelaksanaan, tim relawan menyelenggarakan berbagai program edukatif dengan capaian yang terukur dan berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu program utama adalah Belajar Kelas Literasi, yang menyasar siswa SD dan SMP di sekitar Puskesmas Desa Madobag, dengan jumlah peserta sebanyak 30 siswa.

Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, sekaligus menumbuhkan minat belajar anak-anak melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan menyenangkan. Anak-anak tidak hanya diajak mengenal huruf dan kata, tetapi juga dilibatkan dalam diskusi, permainan edukatif, dan aktivitas yang membangun rasa percaya diri.

“Sebagai mahasiswa ekonomi, saya terbiasa dengan angka. Namun di Desa Madobag, saya belajar bahwa huruf-huruf sederhana dalam buku bacaan anak memiliki makna besar. Literasi adalah fondasi awal untuk membuka masa depan,” ujar Muhammad Syahfii.

Literasi Digital, AI, dan Ruang Inspirasi

Selain penguatan literasi dasar, Syahfii bersama tim relawan juga melaksanakan program Literasi Digital dan Literasi AI. Program ini mengenalkan dasar-dasar penggunaan teknologi digital kepada siswa, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) secara sederhana bagi guru. Pendekatan yang digunakan menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara bijak, etis, dan bertanggung jawab, sesuai dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran di daerah kepulauan.

Program lainnya adalah Dapur Fisika dan Pojok Inspirasi, yang menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak. Melalui praktik sains sederhana, siswa diajak memahami konsep dasar ilmu pengetahuan dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Sementara itu, Pojok Inspirasi dihadirkan sebagai sudut baca yang mendorong kebiasaan membaca, rasa ingin tahu, serta keberanian anak-anak untuk bermimpi dan bercita-cita.

Dampak Nyata di Desa Madobag

Program Mentor Muda Mengajar membawa dampak positif yang nyata bagi masyarakat Desa Madobag. Anak-anak yang sebelumnya ragu kini mulai berani membaca, bertanya, dan menyampaikan pendapat. Guru memperoleh wawasan baru dalam metode pembelajaran, terutama dalam memanfaatkan teknologi secara sederhana. Pojok inspirasi pun menjadi ruang kecil yang menyimpan harapan besar bagi masa depan generasi muda Mentawai.

Atas nama Universitas Labuhanbatu dan tim Mentor Muda Mengajar, Muhammad Syahfii menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, kepercayaan, serta sambutan hangat selama pelaksanaan kegiatan.

Ia berharap, langkah kecil ini dapat menjadi bagian dari gerakan besar anak muda Indonesia untuk hadir, belajar bersama masyarakat, dan membangun negeri dari desa.

Tak hanya angka di ruang kelas, tetapi juga aksara di desa—sebuah perjuangan sunyi mahasiswa ekonomi Universitas Labuhanbatu dalam menumbuhkan literasi di Kepulauan Mentawai.